METODE PENYUCIAN JIWA (TAZKIYAH AL-NAFS) DAN IMPLIKASINYA BAGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Published : 2021-04-22 | Abstract viewsc: 250 | PDF views: 898
------------------------------------------------------------------------------------------------
: Siti Mutholingah(1*),

(1) STAI MA'had Aly Al-Hikam Malang
(*) Corresponding Author

Abstract


 

Abstract: Humans are creatures that have a physical dimension and a soul dimension (nafs). This dimension of the soul is what makes humans more noble than angels, but on the other hand, they can also be more despicable than animals. Therefore, this human soul (nafs) must be purified so that humans can become noble creatures. The term purification of the soul in Sufism is called tazkiyah al-nafs. This is where Islamic Education plays an important role, namely how to ensure that students have a clean soul so that they can become perfect humans. The type of research in this study is literature study by reviewing the literature related to the problem and then analyzed using content analysis techniques. The results of this research are the tazkiyah al-nafs method consisting of 3 stages, namely (1) cleansing the soul from reprehensible traits (takhalli), (2) adorning the soul with praiseworthy qualities of tahalli and (3) revealing the veil to Allah SWT, because the condition of the soul is already pure (tajalli). Then tazkiyah al-nafs has implications for Islamic Education, namely to make people who believe, have faith, and have noble character it is necessary to have a process of soul purification (tazkiyah al-nafs). If the mental condition of the students is clean, holy and healthy, the souls of these students will more easily accept, understand, and practice Islamic teachings and more easily receive guidance from educators to achieve their goals as abdullah as well as khalifatullah.

 

Keywords: Tazkiyah al-Nafs, Islamic Education

 

Abstrak: Manusia merupakan makhluk yang memiliki dimensi fisik dan dimensi jiwa (nafs). Dimensi jiwa inilah yang menjadikan manusia bisa lebih mulia daripada malaikat, namun juga bisa lebih hina daripada binatang. Oleh karena itu, jiwa manusia ini harus disucikan agar manusia bisa menjadi makhluk yang mulia. Istilah penyucian jiwa ini dalam Tasawuf disebut dengan tazkiyah al-nafs. Di sinilah Pendidikan Agama Islam memegang peranan penting, yakni bagaimana agar peserta didik memiliki jiwa yang bersih sehingga bisa menjadi manusia yang sempurna. Adapun jenis penelitian dalam studi ini yaitu studi pustaka dengan cara mengkaji literatur-literatur yang terkait dengan permasalahan kemudian di analisis dengan menggunakan teknik analisis isi atau content analysis. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu metode tazkiyah al-nafs terdiri dari 3 tahap yaitu (1) membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela (takhalli), (2) menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji tahalli dan (3) tersingkapnya tabir kepada Allah SWT karena kondisi jiwa sudah suci (tajalli). Kemudian tazkiyah al-nafs ini berimplikasi terhadap Pendidikan Agama Islam yakni untuk menjadikan manusia yang beriman, bertaqwa, serta berakhlak mulia diperlukan adanya proses penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs). Apabila kondisi jiwa peserta didik sudah bersih, suci dan sehat maka jiwa peserta didik ini akan lebih mudah menerima, memahami, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam serta lebih mudah menerima bimbingan dari pendidik untuk mencapai tujuannya sebagai abdullah sekaligus sebagai khalifatullah.

 

Kata Kunci: Tazkiyah al-Nafs, Pendidikan Agama Islam

Keywords


tazkiyah al-nafs, Pendidikan Agama Islam

Full Text:

PDF

References


Abdul Ghani Azmi, Ilhaami. 2009. Human Capital Development and Organizational Performanc: A Focus On Islamic Perspective, Syariah Journal, Vol. 17. No. 2.

Al- Baidhawi. 1411 H/ 1991 M. Tafsîr Al Baidhawi. Istanbul Turki: al-Maktabah al-Haqîqah.

Al-Ghazâli, Ihya’ Ulum al-Din (tt: kitab al-Syu’ab, tth), vol. II.

Al-Manhajiyyah al-Islâmiyyah wa al-‘Ulûm as-Sulûkiyyah wa at-Tarbiyah,(Silsilah al-Manhajiyyah al-Islâmiyyah: no: 2), Juz, Ketiga, Cet, Pertama, (Firginia : Al-Ma‘had al-Alami Lilfikri al-Islâmi, 1412 H/1992 M).

Al-Marâghi, Ahmad Musthafa. 1365H/946 M. Tafsîr Al-Marâghi. Mesir: Musthafa Al-Bâbi Al-Halbi.

Aman, Saifudin. 2013. Tren Spiritualitas Milenium Ketiga. Banten: Ruhama.

Amiruddin, Aam. 2005. Tafsir Al-Quran Kontemporer Juz Amma. Bandung: Khazanah Intelektual.

As-Sirjâni, Râghib. 2011.Uswatun Lil ‘Âlamîn, Cet. Pertama. Mesir: Dârul-Kutub Al- ‘Ilmiyah.

At Taftazani, Abu Wafa Al Ghanimi.-. Tasawuf Islam: Telaah Historis dan Perkembangannya. Jakarta: Gaya Media Pratama.

At-Thabrâni, Sulaiman Ahmad. 1983. al-Mu‘jam ash-shagîr, ), Juz Pertama, Cet, Pertama. Bairut: Dârul Kutub al-Ilmiyah.

Baharuddin. 2005. Aktualisasi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

C. Chittick, William. 2002. Sufism: A short Introduction, diterjemahkan Zaimul, Tasawuf di Mata Kaum Sufi. Bandung, Mizan.

Effendi, Djohan dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan: Ulumul Quran No. 8, Volume II,1991.

Frager, Robert. 1999. Hati, Diri dan Jiwa, Psikologi Sufi untuk Transformasi. Yogyakarta: Serambi.

Hamzah, Rohana, dkk. 2010. Spiritual Education Development Model, Journal of Islamic and Arabic Education.

Hawwa, Sa’id 1995. Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, Intisari Mensucikan Jiwa Konsep, Mensucikan Jiwa Terpadu. Jakarta: Rabbani Press.

Hawwa, Said. Mensucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu. Terj. Ainur Rafiq Shaleh Tahmid. Jakarta: Robbani Press.

Hsieh, H.-F., & Shannon, S.E. Three Approaches to Qualitative Content Analysis. Qualitative Health Research, (2005).

Ihsan, Hamdan dan Fuad Ihsan. 1998. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Itris, Muhammad. 1998. Mu’jam At-Ta’biraat Al-Quraniyah. Kairo: Dar As-Tsaqafah Lin- Nasyr.

Jaelani, A. F. 2000. Penyucian Jiwa Dan Kesehatan Mental. Jakarta: Amzah.

Jumantoro, Totok dan Samsul Munir Amin. 2005. Kamus Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah.

Katsir, Ibnu. 1999. Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm. Riyadh: Dâr Thayyibah.

M. Solihin. 2002. Kamus Tasawuf. Bandung, PT. Remaja Rosda Karya.

Malik, Imam. 2005. Tazkiyat Al-Nafs (Sebuah Penyucian Jiwa). Surabaya: eLKAF.

Musyrifah. 2007. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Muzhahiri, Husain. 2000. Jihad An-Nafs, trj, Ahmad Subandi, Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Cet. Pertama. Jakarta: PT. Lentera Basritama.

Qutub, Sayyid. 1967. Tafsir Fi Dzilalil Quran. Bairut Lubnan: Ihya Al-Turats Al-Arabi.

Rahman, Gusti Abd. 2012. Terapi Sufistik untuk Penyembuhan Gangguan Kejiwaan. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.

Sholihin, M. 2004. Terapi Sufistik. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Siraj, Saedah (ed), Design and Development Research: Emergent Trends in Educational Research, (Malaysia: Pearson Malaysia Sdn Bhd).

Siregar, Rifay. 2002. Tasawuf dari SufismeKlasik ke Neosufisme. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Solihin. 2003. Tasawuf Tematik. Bandung: CV Pustaka Setia.

Suproyatno, Triyo. 2009. Paradigma Pendidikan Sufistik sebagai Alternatif Pengembangan Kepribadian. Malang: UIN Press.

Toriquddin, Moh. 2008. Sekularitas Tasawuf: Membumikan Tasawuf dalam Dunia Modern. Malang: UIN Press.


Article metrics

Abstract views : 250 | views : 898


DOI: http://dx.doi.org/10.32478/talimuna.v10i1.662

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Siti Mutholingah

License URL: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.